Sabtu, 21 September 2019

LAPORAN AKHIR PERCOBAAN 3 PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT ( ASPIRIN)


VII. DATA PENGAMATAN
NO
PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
1.
Dimasukkan 2,5 gr asam salisilat kering, 4ml anhidrat asam asetat dan 2 tetes H2SO4 pekat kedalam labu Erlenmeyer.

Larutan berwarna bening
2.
Dilakukan  pengocokan sambil dipanaskan pada suhu 500C- 600C selama 15 menit

Larutan sedikit berwarna bening dan panas
3.
Ditambahkan 50 ml air dan didinginkan dalam air es
Terbentuk kristal didasar erlenmeyer
4.
Disaring kristal yang terbentuk dan dicuci dengan air dingin
Kristal berwarna putih dan masih terdapat air pada kristal
5.
Dilakukan rekristalisasi: dimasukkan produk aspirin ke Erlenmeyer dan ditambahkan 5ml air- etanol 50% dan dipanaskan

Produk aspirin melarut dengan sempurna dan berwarna agak pink
6.
Dilakukan penambahan air-etanol 50% jika kristal tidak merata melarut
Karena kristal melarut sempurna kami tidak melakukan penambahan air-etanol
7.
Disaring larutan dalam suasana panas dan didinginkan didalam air es selama 15 menit

Terbentuk kristal putih di dasar erlenmeyer
8.
Kami melakukan proses sublimasi untuk mengetahui bentuk kristal tersebut.
Terdapat kristal dicawan dan menempel dikertas saring. Bentuk kristalnya seperti jarum ujungnya runcing.
 
VIII. PEMBAHASAN
            Pada percobaan ini kami membuat asam asetil salisilat ( aspirin ). Asam asetil salisilat atau sering disebut aspirin ynga biasanya digunakan sebagai obat, analgesic dan anti imflasi. Pembuatan aspirin dilakukan dengan reaksi salisilat dan anhidrat asetat menggunakan katalis asam, digunakannya anhidrat asetat akan lebih baik karena anhidrat asetat memiliki gugus asetil.
         Asam salisilat dengan anhidrat asetat direaksikan dalam suasana asam  yang dibantu dengan pemanasan dan pendinginan agar pembentukan aspirin lebih cepat. Anhidrat aseta digunakan untuk mencegah adanya air, karena juka terdapat air kristal aspirin yang terbentuk akan terurai kembali menjadi asam salisilat.

Gambar terkait 
Gambar 1 Struktur Anhidrat Asetat
         Pada pembuatan aspirin dimulai dengan mencampurkan 2,5 gr asam salisilat kering dengan 4 ml anhidrat glasial dan asam asetat pekat 2 tetes. Fungsi penambahan asam sulfat adalah sebagai katalisator untuk mempercepat treaksi tetapi tidak ikut bereaksi. Kemudian larutan tersebut dikocok sambil dipanaskan pada suhu 500C- 600C selama 15 menit unutk mempercepat menghomogenkan larutan dengan mempercepat asam salisilat larut. Suhu harus tetap dijaga konstan, maka untuk menjaga suhu tetap konstan kami melakukan penambahan air jika suhu meningkat. Kenapa harus tetap konstan disuhu 500C- 600C? karena pada suhu ini adalah suhu optimal pemebentukan aspirin. Jika suhu ynag digunakan dibawah 500C maka reaksi yang terjadi akan lambat dan tidak berlangsung sempurna, sedangakan lebih dari suhu 600c maka aspirin akan terurai kembali.

Hasil gambar untuk gambar reaksi aspirin
           Gambar 2 Mekanisme Reaksi Asam Asetil Salisilat
          Setelah dilakukan pemanasan 15 menit larutan tersebut didinginkan didalam air es untuk mempercepat pembentukan kristal dan hal tersebutpun terjadi maka kami melakukan penyaringan dan mencucinya dengan air dingin. Setelah itu kami melakukan proses rekristalisasi, ini dilakukan unutk menghilangkan kristal dari asam yang masih tertinggal dan menghilangkan zat pengotor. Rekristalisasi dilakukan dengan memasukkan produk aspirin ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 5 ml etanol-air 50% dan dipanaskan sampai kristal melarut sempurna, jika kristal tidak larut semua maka bisa dilakukan penambahan etanol-air 50% sedikit demi sedikit sampai kristal melarut. Akan tetapi, pada percobaan ini kristalnya melarut sempurna dan tidak perlu dilakukan penambahan etanol-air 50%. . Tujuan dilakukan pemanasan pada praktikum ini adalah unutk menghilangkan pengotor pada aspirin sehinnga diperoleh aspirin yang murni, dan juga unutk mempercepat terjadinya reaksi atau mempercepat kelarutan asam salisilat hingga bercampur sempurna.
            Jika sudah melarut sempurna, kami melakukan penyaringan pada suasan panas menggunakan kertas saring lipat sementara erlenmeyer kami letakkan didalam air es unutk mempercepat terbentuknya kristal. Dilihat bahwa didasar Erlenmeyer terbentuk kristal putih, kami diamkan selama 15 menit. Kemudian kami melakukan sublimasi terhadap aspirin tersebut unutk memperjelas bentuk kristal. Setelah dilakukan sublimasi terlihat bentuk kristal yang takan seperti jarun yang lengket disamping- samping cawan porselen dan dikertas saring. Disini kami mendapatkan massa kristal 2,0659 gram.

Link video praktikum yang telah kami lakukan : 
https://youtu.be/PpnsLg0kSq8
IX.PERTANYAAN
     1. Proses pemanasan dilakukan pada 500C- 600C dan harus tetap konstan disuhu tersebut. mengapa demikian?

          2. Pada percobaan ini dilangkah pertama dilakukan penambahan H2SO4 pekat 2 tetes kedalam campuran 2,5 gram asam salislat kering + 4ml anhidrat asam asetat. Jika kita didak melakukan penambahan asam sulfat tersebut menurut anda apa yang akan terjadi ?

          3.   Pada praktikum ini kita asam anhidrat aseatat digantikan dengan asam asetat glasial. Dengan   penggantian asam tersebut apakah mempengaruhi hasil?

X. KESIMPULAN 
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Aspirin dapat dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat dan      menggunakan katalis H2SO4 pekat sebagai zat penghidrasi.
2. Reaksi pada aspirin ini dinamakan reaksi asetilasi dengan menggunakan prinsip esterifikasi. 

XI. DAFTAR PUSTAKA
Dwipa, Dkk. 2014. Optimasi Proses Esterifikasi Asam Salisilat dengan N-Oktanol. Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya. Vol 8, No 1 (2014).
Fessenden & Fessenden.1982.Organic Chemistry. Edisi 3. Jakarta : Erlangga.
Nuraeni, D., 2007, Pengaruh Pemberian Aspirin Dosis Toksis Peroral Terhadap Gambaran Histopatologi Gaster, Duodenal dan jejunum tikus wistar, Artikel karya tulis ilmiah., Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Oxtoby. 2003. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Eralangga.
Tim Kimia Organik. 2019. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi: Universitas Jambi.


XII. LAMPIRAN























3 komentar:

  1. 3.tidak berpengaruh dengan hasil praktikum karena asam asetat glasial mempunyai sifat yang sama dengan anhidrat asam asetat.

    BalasHapus
  2. 1. Karena suhu 50-60 derajat ini bisa dikatakan sebagai suhu optimal pada pembentukan aspirin. Nah jika suhu nya dibawah suhu dari yg di tetapkan maka reaksinya akan berjalan lambat dan tidak sempurna, dan juga jika suhu melebihi batas yg ditetapkan yang terjadi adalah aspirin tersebut bisa saja terurai kembali

    BalasHapus
  3. 2. maka kita tidak akan mendapatkan hasil yang kita inginkan

    BalasHapus

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

    Sumber:http://sudutpendidikan7.blogspot.com/ Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang menarik untuk dibicaraka...