Senin, 28 September 2020

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

 


 
Sumber:http://sudutpendidikan7.blogspot.com/

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang menarik untuk dibicarakan, karena pendidikan juga termasuk komponen penting dalam membentuk generasi Indonesia yang unggul. Faktor utama untuk mewujudkan impian tersebut adalah dengan menciptakan sumber daya pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu setiap orang berhak untuk memperoleh ilmu dan menikmati dunia pendidikan secara formal dan non formal. Guru merupakan faktor penting untuk mewujudkan mimpi tersebut. Oleh karena itu seorang Guru harus memberikan yang terbaik dalam mengajar. Guru memerlukan berbagai macam sarana atau perangkat pembelajaran dalam proses belajar mangajar. Hal ini bertujuan untuk terjadinya suatu kelancaran proses pembelajaran dalam proses belajar dikelas. 

Perangkat pebelajaran merupakan suatu alat yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik pada saat kegiatan pembelajaran dikelas maupun diliuar kelas. Perangkat pembelajaran berisikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), Media Pembelajaran, Metode dan Rubrik penilaian yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang bisa dikatakan baik apabila terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien. 

Berdasarkan jurnal yang telah diobservasi peneliti masih banyak pemebelajaran tentang sistem koloid menggunakan metode ceramah seperti pada jurnal Padmanaba,dkk. (2018) mengatakan bahwa permasalahan yang sering muncul di SMA dalam mengajarkan materi ini adalah kesulitan guru di dalam menyampaikan aspek mikroskopik, makroskopik dan simbolik kepada siswa. Pembelajaran yang digunakan belum berlangsung secara maksimal, karena pada umumnya masih menggunakan metode ceramah yang menyebabkan pemahaman konsep siswa tentang materi yang diajarkan menjadi lemah. Selain itu, dengan metode ceramah dapat menimbulkan berbagai persepsi pada siswa dalam menangkap penyampaian guru. Dalam artian, tidak terjadi kesatuan persepsi dari siswa terhadap materi yang diajarkan.  Begitu juga pada jurnal Christiani,dkk. (2012) mengatakan bahwa model pembelajaran kimia koloid yang berlangsung selama ini membutan Siswa bosan dan menyepelekan materi tersebut. Padahal menurut guru pengampu pelajaran kimia di sekolah tersebut pada kenyataanya nilai-nilai siswa tentang materi koloid tergolong rendah. Oleh karena itu, adanya suatu strategi belajar mengajar yang sesuai dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat bertujuan agar pembelajaran tersebut dapat berhasil.

Salah satu yang bisa dilakukan unutk mengatasi maslah tersebut adalah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi system koloid. Dalam hal ini upaya yang ditawarkan peneliti untuk menangani masalah tersebut adalah dengan melakukan pengembangan perangkat pemebelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 5e. Pembelajaran dengan model Learning Cycle 5E adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered) yang merupakan rangkaian tahapan kegiatan yang dilakukan dengan mengorganisasikan sdemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang harus dicapai dalam pemebelajaran dengan berperan aktif.

Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Medriati (2011) yang berjudul Pengembangan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Untuk Meningkatkan Kemampuan Penguasaan Aplikasi Konsep Studi Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Bidang Sains Di Sekolah Dasar. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui seberapa baik siswa dalam mengeplikasikan kemampuan berpikirnya secara alamiah pada situasi yang sedang dialami. Pada penelitian ini menunjukkan hasil yang baik, dimana model pembelajaran learning cycle lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pengasaan konsep sains siswa di bandingkan dengan pembelajaran biasa atau konvensional. 

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Sari Yusnita, Kus sri Martini, dan Sri Yamtimah (2013) dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi berprestasi dan prestasi belajar siswa melalui siklus belajar 5E (Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration dan Evaluation) disertai dengan handout pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan agar siswa-siswi dapat belajar dengan baik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 5E yang disertai dengan penggunaan handout dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang dilihat dari hasil belajar siswa yang meningkat pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dilihat dari meningkatnya motivasi berprestasi siswa (30% pada siklus I menjadi 62,5% pada siklus II) dan prestasi belajar siswa (aspek kognitif 27,5% menjadi 77,5% pada siklus II). Dari aspek afektif menunjukkan bahwa terdapat peningkatan persentase dari 40% pada siklus I menjadi 72,5% pada siklus II, sedangkan aspek psikomotor mencapai 72,5%.

Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Nahdia Rupawanti dkk, dengan judul “ Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Learning Cycle 5E untuk Melatih Berfikir Kritis Siswa Pada Materi Pokok Alat-Alat Optik” diperoleh hasil penelitian bahwa siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran Learning Cycle 5e yang telah dikembangkan dan siswa juga merasa tertarik dengan perangkat pembelajaran Learning Cycle 5e yang telah dikembangkan.

Berdasarkan uraian diatas, untuk menciptakan terjadinya proses pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dan memberikan pengalaman belajar yang efektif dan  menarik bagi siswa, maka dapat digunakan model pembelajaran Learning cycle 5E (Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration dan Evaluation). Alasan penggunaan model tersebut adalah karena dengan penggunaan model Learning Cycle 5E untuk meningkatkan dan melatif keaktivan siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini merupakan salah satu pembelajaran berlandaskan kontruktivisme, sehingga siswa diajak untuk membangun dan menghubungkan pengetahuannyan dengan pengalamannya yang diperoleh sebelumnya. Oleh karena itu  model pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) yang akan melatih dan meningkatkan keaktivan siswa dalam pembelajaran system koloid. 

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “ Pengembangan LKPD Berbasis Learning Cycle 5E (Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, Evaluation) untuk Melatih Keaktifan Siswa pada Materi Sistem Koloid Di Kelas XI SMA”

Teori Belajar Terhadap Model Pembalajaran Learning Cycle 5E

Model pembelajaran Learning Cycle 5E adalah pembelajaran yang lebih memberdayakan atau pembelajaran yang berpusat pada siswa ( pembelajran student centered) dengan adanya rangkaian atau tahap-tahap dari pembelajaran yang akan dicapai pada saat proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Learning Cycle 5E  yang mengarahkan peserta didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pencapaian yang diharapkan peserta didik mampu mengembangkan pemahaman suatu konsep secara lebih mendalam sehingga  siswa dapat menguasai kompetensi yang haris dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif. Tahapan siklus 5E itu terdiri atas tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration), dan evaluasi (evaluation).

Pada fase pertama yaitu Engagement, peserta didik dituntut untuk mempersiapkan perhatian  peserta didik  supaya lebih focus  pada topik yang tertentu. Dalam fase ini yang dilakukan adalah untuk memberikan motivasi unutk memulai pembelajaran akan suatu peristiwa yang bersangkutan dengan materi pembelajaran yang memfokuskan perhatian siswa unutk menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman yang telah dialami. Pada fase ini guru akan mengajukan pertanya-pertanyaan untuk menumbuhkan minat dan motivasi siswa, dimana pada saat guru menjelaskan tidak membuat pengertian tetapi menjelaskan tentang konsep, yang akan membangkitkan minat siswa untuk mengeksplorasi dengan menggunakan pengalaman konkret untuk observasi, mengumpulkan informasi,menguji dan merumuskan kemabali yang akan di lanjutkan pada fase eksplorasi.

Fase kedua yaitu Exploration, pada tahap ini siswa berkesempatan untuk memahami dan mengeksplorasi atau mencari subjek hanya melalui pemikiran dan pengalaman yang dialami sisea sendiri, dengan menciptakan dan menguji hipotesis, yang dapat belangsung dengan jangka panjang dan pendek. Setelah diberikan sedikit penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan, guru bisa membagikan peta konsep terhadap siswa untuk diisi, mungkin dilakukan dengan melaksanakan demonstrasi atau percobaan yang memungkinkan dilakukan. Pada fase ini, siswa mencoba atau berusaha menyelesaikan masalah yang diberikan dengan cara bekerja, berdiskusi, dan bereksperimen dalam kelompoknya. Sementara itu, guru sebaiknya tida ikut campur melainkan hanya membimbing siswa terhadap karya sisiwa. Jika ditemukan maslah saat membimbing, guru tidak langsung memperbikinya tetapi memberi petunjuk atau mengarahkan siswa untuk memeriksa kesalahnnya sendiri sehingga adanya interaksi antara sesama siswa, yang menandakan bahwa mereka tidak pasif selama proses ini.

Fase ketiga yaitu Explanation, pada tahap ini siswa diperkenankan untuk membahas secara ilmiah hasil yang diperoleh dari observasi dan data yang diperoleh.  Perwakilan dari setiap kelompok diperkenankan untuk menjelaskan hasil diskusi merekankepada kelompok lain, disamping itu, kelompok lain bisa menanggapi penjelasan kelompok tersebut. Fase ini dilakukan dengan berpusat pada guru karena disinilah peran guru untuk menjelaskan miskonsepsi yang terjadi pada siswa. Guru memberikan penjelasan yang formal dan ilmiah dengan tingkat pengetahuan dasar sehingga memungkinkan membantu siswa menyatukan pengalaman mereka unutk menghasilkan konsep baru.

Fase selanjutnya yaitu Elaboration, pada fase ini siswa dapat mencoba atau mengaplikasikan pengetahuan yang baru diperleh unutk menghasilkan sebuah solusi terhadap permasalahan secara logis. Pada fase ini akan terjadi diskusi kecil atau diskusi kelas secara menyeluruh akan memberikan kesempatan pada siswa unutk memahami subjek permasalahan, mempertahankan, dan mengutarakan ide mereka. Maka hasil pemikiran tersebut dengan konsep baru yang dipejari bisa diaplikasikan dalam situasi yang berbeda dengan konsep baru yang akan tersimpan dalam memori jangka panjang dan bersifat permanen. Fase elaboration memang rumit karena baru dipelajari dan akan dilanjutkan pada tahap evaluasi.

Kemudian fase yang terakhir yaitu Evaluation, fase ini adalah sangat penting untuk menentukan apakah siswa telah mempelajari konsep dengan baik dan benar atau tidak merefleksikannya dalam konteks ilmiah. Untuk menjalankan fase ini bisa dilakukan dengan metode formal maupun metode informal. Dalam fase ini  akan dilakukan evaluasi yang berfungsi untuk mengungkapkan hasil pemahaman siswa. Siswa dapat menjawab pertanyaan secara lisan, membuat ringkasan pemeblajaran, mengisi peta kosong, membaca grafik dan mengevaluasi table. Kemudia sisiwa diminta untuk mengaitkan yang telah mereja pelajari dengan yang terjadi dikehidupan nyata.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Learning Cycle 5E selaras dengan teori pembelajaran kontruktivisme dimana setiap fase terutama pada fase exploration siswa dituntut untuk mencari dan membangun sebuah konsep untuk memecahkan masalah yang diperoleh baik secara berkelompok atau individu. Disamping itu, dapat kita lihat dari pengertian model learning cycle 5E yang mengatakan bahwa pembelajaran ini berpusat terhadap siswa yang mengarahkan peserta didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pencapaian yang diharapkan peserta didik mampu mengembangkan pemahaman suatu konsep secara lebih mendalam sehingga  siswa dapat menguasai kompetensi yang haris dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif.

 

2 komentar:

  1. Sore. Nama saya misnawati (RSA1C117004) disini saya sedikit ingin bertanya mengenai teori yang digunakan dalam penelitian model cycle 5E ini dimana saudara mengatakan bahwa teori yang sesuai dengan model ini yaitu teori kontrukstivisme. Bagaimana dengan teori kontruktivisme ini dalam kecapaian tujuan model cycle 5E tehadap proses pembelajaran tersebut? Sedangkan tujuan yang telah di katakan pada blog saudara mengenai pengembangan pemahaman suatu konsep.
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Terimakasih saudari Misna, tujuan model Learning Cycle 5E adalah unutk menjadikan siswa menjadi lebih aktif dan bisa membangun pengetahuannya sendiri melalui 5 fase pada model ini. dimana pada setiap fase siswa dituntut untuk bisa membangun kosep pengetahuan sendiri melalui pengalam atau pengetahuan dasar mereka dan pada fase Exploration siswa dituntut untuk mencari dan membangun sebuah konsep untuk memecahkan permasalahan baik individu atau kelompok.Model ini juga pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mengarahkan peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran. oleh karena itu saya memilih teori kontruktivisme pada model tersebut, seperti yang kita ketahui bahwa teori ini berlandaskan pengalaman siswa yang akan dibangun menjadi sebuah pengatahuan. maksud dari pengembangan pemahaman konsep ini adalah diaman siswa mampu membangun pengetahuan dasarnya melalui tahap Learning Cycle 5E ini yang mana setiap tahap saling berhubungan untuk mengembangkan kemampuan siswa akan suatu konsep pembelajaran. Sekian yang bisa saya jelaskan, terimakasih....

    BalasHapus

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

    Sumber:http://sudutpendidikan7.blogspot.com/ Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang menarik untuk dibicaraka...