Selasa, 29 Oktober 2019

JURNAL PERCOBAAN 8 ISOLASI SENYAWA P-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR (KAEMFERIAN GALANGAL L)


I.          JUDUL: Isolasi Senyawa p-Metoksi Sinamat dari Kencur ( Kaemferian galangal L)
II.          HARI/ TANGGAL: Rabu,  6 November 2019
III.       TUJUAN: Setelah mengikuti percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1. Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam dan khususnya senyawa fenilpropanoid
2.Dapat mengenal sifat-sifat kimia fenil propanol melalui reaksi-reaksi pengenalan yang spesifik.
IV.             LANDASAN TEORI
           Kencur ( Kaemferian galangal L) merupakan tumbuhan tanaman tropis yang biasanya digunakan sebagai bumbu dapur dan sebagai tanaman obat tradisional. Kencur ini mengandung senyawa bahan kimia antara lain: etil p- metoksi sinamat, etil sinamat adalah komponen utama, p- metoksistiren. Kandungan etil p- metoksinamat pada kencur cukup tinggi bisa mencapai 10% ( Tim kimia organic,2019)
           Senyawa etil p-metoksi sinamat merupakan bahan dasar untuk sintesis turunan sianamat karena mempunyai gugus fungsi ester yang sangat reaktif. Oleh karena itu, mudah sekali untuk diubah dengan menggunakan gugus lainnya seperti amina. Pengubahan tersebut dapat dilakukan dengan mereaksikan langsung dengan pereaksi senyawa etanolamin pada kondisi tertentu. Hidrolisa etil p- metoksi sinamat menghasilkan asam-p- metoksi sinamat. Sedangkan transformasi gugus ester dapat dilakukan melalui halida asam yang jauh lebih reaktif unutk diubah menjadi gugus yang diinginkan seperti: ester aril yang disintesis melalui halide asam yang direaksikan dengan fenol dengan jaln reaksi adisi-eliminasi nukleofilik, untuk menghasilakn fenil sinamat dilakukan dengan mereaksikan sinamol klorida dengan fenol. Untuk mengubah gugus ester menjadi amida dapat dilakukan dengan melalui amolisis, yakni mereaksikan langsung ester dengan ammonia dan amina (Fessenden,1992).
           Etil p-metoksisinamat merupakan senyawa ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi bersifat polar dengan gugus karbonil mengikat 17 etil bersifat polar sehingga ,menggunakan pelarut yang kepolarannya bervariasi seperti etanol, etil asetat, methanol, air dan n- heksana. Rumus molekul Asam p-metoksisinamat adalah C10H9O3 dengan berat molekul 117,18, titik didih 317,24˚C. Senyawa ini berbentuk kristal jarum berwarna putih, tidak larut dalam air, mudah larut dalam etanol 96% dan metanol. Senyawa ini memilikititik lebur berkisar antara 168˚ – 168,5˚C (Komala,2014).
           Untuk menghasilkan asam p-metoksi sinamat yaitu dengan menghidrolisis etil p- metoksisinamat dimana reaksi ini sangat mudah dilakukan. Pada pembuatan p-metoksi sinamat dilakukan penambahan NaOH dimana akan terurai menjadi Na+ danOH-. Yang mana ion OH akan menyerang gugus C yang bernuatan positif dan menyebabkan kelebihan electron maka akan terjadi pematahan ikatan ganda anatara O dan atom C sehingga akan membentuk ikatan rangkap lagi dengan atom C unutk menstabilkan ikatan tersebut dengan mengeluarkan OC2H5  maka akan terbentuk senyawa p-metoksi sianamat ( Affrianti,1990).
                      
V.                ALAT DAN BAHAN
5.1  Alat
-    Erlenmeyer 250ml
-    Kertas saring
-    KLT
-    Penangas air
-    Corong Buchner
-    Labu bulat
-    Corong biasa
-    Evavorator
-    Alat ukur TI
5.2  Bahan
-    Kencur yang telah ditumbuk
-    Kloroform
-    Etanol
-    NaOH
-    Methanol
-    Asam Sulfat Klorida
VI.              PROSEDUR KERJA
a)      Isolasi Etil p-Metoksi Sinamat
Dalam Erlenmeyer 250ml masukkan serbuk kencur, kemudian direndam dengan 100ml petroleum eter fraksi 600C-800C hingga selapis petroleum eter terdapat diatasnya. Hangatkan beberapa menit dalam penangas air sambil digoyang-goyang, biarkan selama setengah jam dalam temperature kamar kemudian disaring. Pisahkan residu kencur dan ulangi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama, filtrate yang diperoleh digabung kemudian dipekatkan dibawah tekanan rendah (evavorator) sampai volume larutan kira-kira setengahnya. Larutan pekat didinginkan dalam air es, padatan yang terbentuk disaring dengan menggunakan corong Buchner, filtrate dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring digabung kemudian ditimbang. Hiting rendemennya! Rekristalisasi dilakukan dalam petroleum eter. Kemudian diukur titik didih lelehnya dan dibandingkan dengan literature ( literature 48-500C).
b)     Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Sampel kristal hasil isolasi dilarutkan dalam petroleum eter, menggunakan kapiler, totolkan pada KLT ukursn 2x5 cm. pada jarak 0,5cm dari bawah, gunakan etil p- metoksinamat standar sebagai pembanding. Masukkan dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan elurn kloform, pengamatan bercak dilakukan dengan melihatnya dibawah lampu UV atau dimassuka kedalam chamber iodium. Hitung rfnya dan bandingakan dengan standar.
c)      Pemeriksaan spektroskopi ultra violet
Kristal hasil isolasi dilarutkan dalam methanol kemudian dibuat spectrum ultra violetnya pada daerah panjang gelombang 200-300nm.
d)     Pemeriksaan spektroskopi infra merah
Kristal hasil isolasi dibuat pellet dengan KBr kering, kemudian dibuat specterum infra merahnya.
Link video :  
Permasalahan:
1. Pada percobaan ini kita pada prosedur pemanasan disarankan supaya suhu pemanasan tidak melebihi 48-50 derajat celcius. Mengapa demikian?
2. Percobaan isolasi ini digunakan kencur yang telahh dikeringkan. Mengapa kencur perlu dikeringkan?  Apakah kandungan dari kencur kering dengan kencur yang masih belum kering berbeda? Jelaskan.
3. Pada percobaan ini kita pernah gagal. Setalah membaca literatur yang lain  ternyata simplisia terlebih dahulu direndam dengan kloroform atau petroleum eter selama 24 jam. Mengapa demikian?

Minggu, 27 Oktober 2019

LAPORAN PERCOBAAN 6 SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM


VII. DATA PENGAMATAN
7.1 Pemeriksaan Alkaloid
PERLAKUAAN
HASIL PENGAMATAN
Dihaluskan simplisia disini kami menggunakan daun pandan, lalu ditambahkan kloroform + silica. Setelah halus basahi dengan 10ml kloroform, digerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan digerus lagi. Kemudian saring pada tabung reaksi tambah 10 tetes asam sulfat 2N dikocok. Lapisan asam didekantasi dan dipindahkan kedalam 3 tabung reaksi dan ditambahkan 1 tetes reagen wagner, wayer, dragendrof
a.       Meyer
b.      Wagner
c.       Dragendrof

7.2 Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dihaluskan simplisia buncis atau daun rambutan. Dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu ditambahkan 25ml etanol dan diaduk. Kemudian larutan tersebut dipanaskan diatas penangas air. Setelah itu dilakukan penyaringan dalam keadaan panas dan diuapkan menggunakan penangas hingga menghasilkan ekstrak steroid.
Setalah itu dititrasi dengan sedikit eter dan ditempatkan pada 2 lobang plat tetes, pada plat pertama ditambahkan 2-3 tetes sanhidrida asam asetat. Pada plat kedua di tambahkan 1 tetes asam sulfat pekat.
a.       Steroid, pada uji ini menghasilkan warna hijau dengan simplisia buncis atapun rambutan
b.      Terpenoid, pada uji ininmenghasilakn warna orange kemerahan dengan simplisia buncis sedangkan pada daun rambutan tidak mengandung terpenoid

7.3  Pemeriksaan Flavonoid
Perlakuan
Hasil pengamatan
Dimasukkan ektrak kulit batang nangka dimasukkan kedalam gelas piala kemudisn ditambahkan 10ml aquades dipanaskan sampai mendidih selama 5 menit. Setelah itu, saring filtratnya dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu tambahkan pita Mg, 1ml HCL pekat dan dikocok.
Uji positif, ditandai dengan adanya warna kuning pada lapisan amilalkohol

7.4  pemeriksaan saponim
Perlakuan
Hasil pengamatan
Dimasukkan sampel buncis atau daun rambutan kedalam gelas piala kemudian diitambahkan 10ml air panas dan didihkan selama 5 menit. Setelah itu saring, filtratnya digunakan sebagai uji dan kocok dalam tabung reaksi dan diamkan selama 10 menit, ditambahkan 1 mlHCL 2M.
a.       uji pada buncis positif menghasilkan busa yang lumayan banyak dan berbusa bertahan sampai seminggu
b.      uji pada daun rambutan, positif menghasilkan busa banyak

7.5  Pemeriksaan Kuinon
Perlakuan
Hasil pengamatan
Simplisia tumbuhan daun pandan atau kayu manis dipotong halus, kemudian diekstraksi dengan eter
Pada kedua tumbuhan ini positif kuinon denga terbentuknya warna hijau dan coklat kehitaman mengikuti warna simplisia

7.6  Pemeriksaan Kumarin
Perlakuan
Hasil pengamatan
Ektrak daun inai dideteksi keberadaan kumarinnya dengan cara ekstrak etanol dan  methanol di kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat: methanol ( 9:1) atau (8:2).
Pada pemakaian TLC menghasikan warna biru

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini kami melaukan uji bahan alam seperti pemeriksaan alkaloid, pemeriksaan steroid dan terpenoid,pemeriksaan flavonoida, pemeriksaan saponim, pemeriksaan kuinon serta pemeriksaan kumarin.
a.    Pemeriksaan alkaloid
        Pada percobaan pemeriksaan alkaloid ini kami menggunakan daun pandan wangi. Daun pandan ini diketahui berdasarkan penelitian mengandung alkaloid, saponin, flavonoida, tannin, polifenol, dan zat warna. Yang membuat daun pandan ini beraroma wangi tidak bisa diketahui dengan jelas, kemungkinan yang menyebabkan hal tersebut adalah pada daun pandan terkandung senyawa 2- acetyl-1-pyrroline (2AP). Untuk mengetahui kandungan dari daunpandan tersebut kami melakukan penghalusan daun pandan, setelah daun tersebut halus dilakukan dengan menambahkan 10ml kloroform. Dilakukan lagi penggerusan dengan penambahan kloroform dan amoniak masing masing 10ml. setelah itu disaring unutk mendapatkan filtratnya dan ditambahkan 10 tetes asam sulfat. Jika terbentuk lapisan, dilakukan pemindahan kedalam tabung reaksi dan diuji dengan menggunakanpereaksi meyer akan menghasilkan endapan putih , wagner menghassilkan endapan berwarna coklat, dragendorf menghasilkan endapan berwarna jingga.
        Pada percobaan ini terbukti bahwa daun pandan wangi mengandung flavonoid karean hasil pemeriksaan yaitu Filtrat dari daun pandan wangi  diperiksa dengan pereaksi Dragendorff terbentuk endapan jingga, Wagner terbentuk endapan coklat, dan Mayer terbentuk endapan putih.
b.Pemeriksaan steroid dan terpenoid
         Pada percobaan ini pemeriksaan terpenoid dan steroid dilakukan pengujiannya dengan menggunakan simplisia buncis dan daun rambutan yang dihaluskan unutk mendapatkan ekstraknya dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer, ditambahkan 25 ml etanol dan diaduk, kemudian dilakukan pemanasan selama 10 menit. Setelah kurang lebih 10 menit disaring dengan keadaan panas. Kami melakukuan penguapan filtrate dengan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol. Setelah itu, esktrak pekat ditambahkan eter dan pada 2 lobang plat tets diberikan beberapa tetes etanol dan kita biarkan kering. Kemudian tambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati dan ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat. Pada daun rambutan kami mendapatkan kandungan steroid dimana dengan terbentuknya warna hijau, pada daun rambutan tidak mengandung terpenoid. Sedangkan pada buncis kami mendapatkan kandungan terpenoid dimana terbentuknya warna orange. Steroid ini kelompok senyawa yang memiliki kerangka dasar siklopentana karena mempunyai cincin pada pemeriksaan steroid.
c.  Pemeriksaan Flavonoida
Pada pengujian flavonoida ini kami menggunakan kulit batang nangka. Pertama sekali batang nangka dilakukan penghalusan unutk mendapatkan estrak yang lebih bagus.  Setelah didapatkan ekstrak, dimasukkan kulit batang nangka yang sudah diekstrak kedalam gelas piala dan ditambahkan 10ml aquades dan dilakukan pemanasan sampai mendidih kurang lebih selama 5 menit. Kemudian dilakukan penyaringan dan filtrate yang didapat dipakai sebagai larutan yang akan kita uji. filtrate tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan pita Mg, 1ml HCl pekat dan 1 ml amilalkohol kemudian dikocok dengan kuat. Hasil uji flavonoid untuk sample dinyatakan positif, karena pengujian serbuk ekstrak menggunakan HCl pekat dan potongan pita Mg, dimana akan dihasilkan larutan yang berwarna kuning.
d.                  Pemeriksaan Saponim
Pada percobaan ini kami juga menggunakan simplisia buncis dan daun rambutan yang telah dihaluskan. Pertama sekali kita masukkan ekstrak buncis dan rambutan dimasukkan kedalam gelas piala dan ditambahkan 10ml air panas kemudian didihkan selama 5 menit. Setelah itu, dilakukan penyaringan larutan dan filtratnya dipakai untuk larutan uji. Dimana filtrate dimasukkan kedalam tabung reaksi tertutup kemudian dikocok selama kurang lebih 10 detik dan diamkan selama 10 menit, lalu kita tambahkan 1ml HCl 2M. Uji pada Buncis, positif menghasilkan busa yang lumayan banyak dan busa bertahan sampai seminggu. Sedangkan Uji pada daun rambutan, positif menghasilkan busa banyak tetapi busa tidak bertahan lama.
e.  Pemeriksaan Kuinon
Kita potong-potong halus tumbuhan kayu manis dan daun pandan ,kemudian ekstraksi dengan eter. Sample positif mengandung kuinon , dimana pada kayu manis menghasilkan larutan yang berwarna coklat kehitaman, sedangkan pada daun pandan menghasilkan larutan yang berwarna hijau. dimana warna yang dihasilkan ini mengikuti dari simplisia yang digunakan.

f.       Pemeriksaan Kumarin
Pada pemeriksaan kumarin ini, kita menggunakan tumbuhan daun inai yang di ekstrak dengan methanol atau etanol dengan kromatografi lapis tipis (TLC), selanjutnya menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat:methanol (9:1) atau (8:2). Pada simplisia ini positif menghasilkan larutan yang berwarna biru.
IX. Pertanyaan Pasca
1)      Pada percobaan pemeriksaan alkaloid tumbuhan yang telah dihaluskan untuk mendapatkan estraknya dilakukan penambahan kloroforn dan kloroform amoniak. Megapa perlu dilakukan lagi penamabahan kloroform amoniak?
2)     Pada percobaan ini digunakan pereaksi wagner,mayer dan dragendorff. Apakah pereaksi tersebut bisa diganti dengan pereaksi lain? Jelaskan!
3)   Pada  pemeriksaan Steroid dan Terpenoid filtratnya diuapkan, setelah dilakukannya proses pemanasan. Mengapa filtratnya diuapkan?

X. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang bisa kami ambil dari praktikum ini antara lain:
1) Teknik-teknik skrinning fitokimia dapat dilakukan dengan teknikpemisahan Alkaloida,Flavoloida,Kumarin,Saponin,Kuinon,Steroid dan Terpenoid
2)      Jenis-jenis pereaksi yang digunakan yaitu pereaksi wagner,mayer,dragendroff, pereaksi shinoda(flavonoid), danpereaksi kiberman buchard(steroid)
XI. Daftar Pustaka
       Fessenden, R.,& Fessenden, J. 1981. Kimia Organik Jilid 1.Jakarta: Erlangga.
Kristanti,A,N,N,S, dkk. 2008. Buku Ajar Fitokimia Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik FMIPA. Surabaya: Universitas Airlangga.
Robinso. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB Press.
Tim Penuntun Kimia Organik 2.2015. Penuntun Kimia Organik 2.Jambi:Universitas Jambi.
XII. LAMPIRAN

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

    Sumber:http://sudutpendidikan7.blogspot.com/ Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang menarik untuk dibicaraka...