II.
HARI/
TANGGAL: Rabu, 6 November 2019
III.
TUJUAN:
Setelah mengikuti percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1.
Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam dan khususnya senyawa
fenilpropanoid
2.Dapat
mengenal sifat-sifat kimia fenil propanol melalui reaksi-reaksi pengenalan yang
spesifik.
IV.
LANDASAN
TEORI
Kencur ( Kaemferian galangal L) merupakan tumbuhan tanaman tropis yang
biasanya digunakan sebagai bumbu dapur dan sebagai tanaman obat tradisional.
Kencur ini mengandung senyawa bahan kimia antara lain: etil p- metoksi sinamat,
etil sinamat adalah komponen utama, p- metoksistiren. Kandungan etil p-
metoksinamat pada kencur cukup tinggi bisa mencapai 10% ( Tim kimia organic,2019)
Senyawa etil p-metoksi
sinamat merupakan bahan dasar untuk sintesis turunan sianamat karena mempunyai
gugus fungsi ester yang sangat reaktif. Oleh karena itu, mudah sekali untuk
diubah dengan menggunakan gugus lainnya seperti amina. Pengubahan tersebut
dapat dilakukan dengan mereaksikan langsung dengan pereaksi senyawa etanolamin
pada kondisi tertentu. Hidrolisa etil p- metoksi sinamat menghasilkan asam-p-
metoksi sinamat. Sedangkan transformasi gugus ester dapat dilakukan melalui
halida asam yang jauh lebih reaktif unutk diubah menjadi gugus yang diinginkan
seperti: ester aril yang disintesis melalui halide asam yang direaksikan dengan
fenol dengan jaln reaksi adisi-eliminasi nukleofilik, untuk menghasilakn fenil
sinamat dilakukan dengan mereaksikan sinamol klorida dengan fenol. Untuk
mengubah gugus ester menjadi amida dapat dilakukan dengan melalui amolisis,
yakni mereaksikan langsung ester dengan ammonia dan amina (Fessenden,1992).
Etil
p-metoksisinamat merupakan senyawa ester yang mengandung cincin benzene dan
gugus metoksi bersifat polar dengan gugus karbonil mengikat 17 etil bersifat
polar sehingga ,menggunakan pelarut yang kepolarannya bervariasi seperti
etanol, etil asetat, methanol, air dan n- heksana. Rumus molekul Asam
p-metoksisinamat adalah C10H9O3 dengan berat
molekul 117,18, titik didih 317,24˚C. Senyawa ini berbentuk kristal jarum
berwarna putih, tidak larut dalam air, mudah larut dalam etanol 96% dan
metanol. Senyawa ini memilikititik lebur berkisar antara 168˚ – 168,5˚C (Komala,2014).
Untuk menghasilkan asam p-metoksi
sinamat yaitu dengan menghidrolisis etil p- metoksisinamat dimana reaksi ini
sangat mudah dilakukan. Pada pembuatan p-metoksi sinamat dilakukan penambahan
NaOH dimana akan terurai menjadi Na+ danOH-. Yang mana
ion OH akan menyerang gugus C yang bernuatan positif dan menyebabkan kelebihan
electron maka akan terjadi pematahan ikatan ganda anatara O dan atom C sehingga
akan membentuk ikatan rangkap lagi dengan atom C unutk menstabilkan ikatan
tersebut dengan mengeluarkan OC2H5 maka akan terbentuk senyawa p-metoksi
sianamat ( Affrianti,1990).
V.
ALAT
DAN BAHAN
5.1
Alat
-
Erlenmeyer 250ml
-
Kertas saring
-
KLT
-
Penangas air
-
Corong Buchner
-
Labu bulat
-
Corong biasa
-
Evavorator
-
Alat ukur TI
5.2
Bahan
-
Kencur yang telah ditumbuk
-
Kloroform
-
Etanol
-
NaOH
-
Methanol
-
Asam Sulfat Klorida
VI.
PROSEDUR KERJA
a)
Isolasi
Etil p-Metoksi Sinamat
Dalam Erlenmeyer 250ml
masukkan serbuk kencur, kemudian direndam dengan 100ml petroleum eter fraksi 600C-800C
hingga selapis petroleum eter terdapat diatasnya. Hangatkan beberapa menit
dalam penangas air sambil digoyang-goyang, biarkan selama setengah jam dalam
temperature kamar kemudian disaring. Pisahkan residu kencur dan ulangi
perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama, filtrate
yang diperoleh digabung kemudian dipekatkan dibawah tekanan rendah (evavorator)
sampai volume larutan kira-kira setengahnya. Larutan pekat didinginkan dalam
air es, padatan yang terbentuk disaring dengan menggunakan corong Buchner,
filtrate dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring
digabung kemudian ditimbang. Hiting rendemennya! Rekristalisasi dilakukan dalam
petroleum eter. Kemudian diukur titik didih lelehnya dan dibandingkan dengan
literature ( literature 48-500C).
b)
Pemeriksaan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Sampel kristal hasil
isolasi dilarutkan dalam petroleum eter, menggunakan kapiler, totolkan pada KLT
ukursn 2x5 cm. pada jarak 0,5cm dari bawah, gunakan etil p- metoksinamat
standar sebagai pembanding. Masukkan dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan
elurn kloform, pengamatan bercak dilakukan dengan melihatnya dibawah lampu UV
atau dimassuka kedalam chamber iodium. Hitung rfnya dan bandingakan dengan
standar.
c)
Pemeriksaan
spektroskopi ultra violet
Kristal hasil isolasi
dilarutkan dalam methanol kemudian dibuat spectrum ultra violetnya pada daerah
panjang gelombang 200-300nm.
d)
Pemeriksaan
spektroskopi infra merah
Kristal hasil isolasi dibuat pellet
dengan KBr kering, kemudian dibuat specterum infra merahnya.
Link video :
Permasalahan:
1. Pada percobaan ini kita pada prosedur pemanasan disarankan supaya suhu pemanasan tidak melebihi 48-50 derajat celcius. Mengapa demikian?
2. Percobaan isolasi ini digunakan kencur yang telahh dikeringkan. Mengapa kencur perlu dikeringkan? Apakah kandungan dari kencur kering dengan kencur yang masih belum kering berbeda? Jelaskan.
3. Pada percobaan ini kita pernah gagal. Setalah membaca literatur yang lain ternyata simplisia terlebih dahulu direndam dengan kloroform atau petroleum eter selama 24 jam. Mengapa demikian?
1. Pada percobaan ini kita pada prosedur pemanasan disarankan supaya suhu pemanasan tidak melebihi 48-50 derajat celcius. Mengapa demikian?
2. Percobaan isolasi ini digunakan kencur yang telahh dikeringkan. Mengapa kencur perlu dikeringkan? Apakah kandungan dari kencur kering dengan kencur yang masih belum kering berbeda? Jelaskan.
3. Pada percobaan ini kita pernah gagal. Setalah membaca literatur yang lain ternyata simplisia terlebih dahulu direndam dengan kloroform atau petroleum eter selama 24 jam. Mengapa demikian?